Tuesday, February 27, 2007

We Have to Learn from India


SOMETIME, as a nation, we have to learn from other nation’s experience. Quite often, we perceive learning from others will only denigrate our credibility as a proud and independent nation.

(I think, that attitude comes from different sources; maybe some of us believe it’s a sign of weakness to be humble and admit that others have experience that might be valuable for us. It is mere chauvinism and of course self-important feeling has no place in our world today. But, we can
also speculate that that kind of feeling comes from a deeper layer of consciousness: a feeling that was built after hundred years of colonialism-- that is: its always better not to believe in foreigners.)

But, learning from India, of course, is a different case. Indians are hardly considered as foreigners for this archipelago. They had come to the shores of Sumatra and Java islands even before the European arrived-- through trade and spiritual journeys. Dont forget, India was the one who introduced Hinduism to the people in this vast archipelago.

I want to stress out the importance of learning again from India today, not for its religious richness –which we already have learnt and internalized into our values—but from its experience in forging a strong and fair society it is today, out of many ethnict groups and interests-- with almost no blood spilled. I think its also will be a tremendous benefit for Indonesia, if we can also learn from its democracy, that have strive above all else and excel in the last six decades.

India has a --more or less-- similar post-colonial history compared to Indonesia, especially when both countries were struggling for its people's independence. When India was liberated from the British Empire in the late 40’s, their leaders tried very hard and with all means possible to unite their diverse country. Same here. The difference is Indian leaders did it with negotiation, offering concession whenever necessary and appropriate, and ended up creating a strong nation with the consent of its strongest and most representative, stakeholders.

In Indonesia, the story is slightly different. Indeed, as in India, our leaders fought genuinely for the people. The difference began, when they start thinking about how much power should be distributed to districts and provinces.

Back then, during those crucial moments, Indian’s leaders took a very bold step by giving autonomy to regions, which were very powerful under British rule. In return, they received the regions' leaders consent in defending and supporting the newly born nation. But, Indonesian leaders, hiding behind terms like 'unity in diversity' (bhineka tunggal ika--) and 'NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia' (the unitarian state of Republic of Indonesia),choose to centralize its power and gave little to provinces and regencies. As the result, Indonesia have to went through a period of turmoil moments triggered by a couple of destructive rebellions. Its all boiling from the feeling of inequality between Jakarta and other provinces within Indonesia.

Judging from that, I think the power distribution mechanism in India is a valuable experience and lesson for Indonesia. Especially today, in the middle of the government's ambitious program to implement the 1999 regional autonomy law. However, the lesson hasn ’t been fully learnt. In Indonesia, autonomy created a bottleneck bureaucracy, regional corruption and shameless looting by government and member of local parliaments. Of course, we cannot only blame them for all this mess. The central government's action to abruptly change the system unilaterally, decentralize power and authority to districts, without setting up a proper check and balances system, is also partly to blame.

As the result, the local government formerly under tight control from their bosses in Jakarta, now have nobody to report to. The idea that mayors and governors have to be held accountable to their own people is totally new and strange for them. So when people try to question their wrongdoings, the official just hide behind legal procedures that already designed to block people from holding their representatives accountable.

The second very important lesson we can draw from India, is their committed beliefs in democracy. Although for a couple of years in the 70s, it seems like Indian economy would never developed into its form today, no Indian leaders ever playing with the idea of implementing totalitarianism, well at least in public. It seems like, Indians always firmly believe that to govern their diverse society fairly, democracy was, is and will always be, the only way. It might be hectic, crowded and sometimes tiring, but it’s better than having an effective government that wouldn’t listen and cannot be held accountable to its own people.

Indonesia today, I think, has come to the most difficult period in its transition toward democracy. We have succeeded in laying down the foundation of the system, by putting a proper rule of law in place and having a fair election. Now it’s time to start deliver something tangible to the people. "Democracy can not make a country better, but through democracy, a country can be better." I quoted that from an Indian too; Amartya Sen, the scholar who won Nobel Prize for economics in 1998. I believe, understanding this logic, is very important. Especially for leaders who nowadays start to complain about the ineffectiveness of democracy when it comes to delivering promises to people.

Last January, Vice President Jusuf Kalla said he often bewildered by the fact that foreign investment keep flowing to authoritarian China, instead of to democratic Indonesia. “If
we cant deliver prosperity for our people, they will start to question our decision to democratize,” that was what he --more or less-- said. Well, nothing new, actually. People on the street often said they felt better feed and took care, under Soeharto’s dictatorship.

It’s our challenge now to prove that to be wrong.

Maybe its true, under democracy, things sometime seems chaotic and inefficient. However, by listening to all perspectives before deciding something for the nation, I am convince, we will have a far better chance to come out with the correct decision for our people. That, I think, is the most important lesson we all have to learn from India. (*)

Ketika Media Ditunggangi Kepentingan


SEJUMLAH wartawan yang bekerja di beberapa media terkemuka di Jakarta –baik cetak maupun elektronik—belakangan sedang gelisah tak karuan. Pasalnya sederhana, semakin hari semakin jelas ada indikasi kuat kalau pemilik media tempat mereka bekerja, mulai memanfaatkan medianya untuk kepentingan bisnis komersial dan pribadinya.

Simak kisah seorang wartawan Rajawali Citra Televisi Indonesia –sebut saja namanya Andi--. Saat heboh soal kasus NCD bodong PT Citra Marga Nusantara Persada menimpa pemilik stasiun teve RCTI, Harry Tanoe-- dia menyaksikan sendiri bagaimana manajemen RCTI menyiapkan program khusus untuk meng-counter apa yang mereka yakini sebagai ‘black campaign’ atas boss mereka. Program talkshow itu ditayangkan akhir Februari lalu. “Programnya didesain satu arah untuk membela Harry Tanoe, pembicaranya dipilih yang pro Harry Tanoe, dan program itu menggunakan blocking time. Tidak ada iklan sama sekali,” kata Andi.

Andi memang tak bisa berbuat apa-apa menyaksikan tingkah atasannya yang dengan semena-mena menunggangi medianya. “Saya belum siap melawan secara frontal. Kawan-kawan di redaksi belum satu suara menyikapi masalah ini,” katanya pasrah.

Ungkapan seperti itu terasa akrab di telinga, karena acapkali keluar dari mulut wartawan yang bekerja di media yang ditunggangi pemiliknya seperti itu. Vivin –dia meminta nama aslinya disamarkan-- salahseorang wartawan senior di stasiun Metro Teve misalnya berkisah dengan kesal bagaimana banyak topik liputan di medianya yang urung ditayangkan karena terkait kepentingan bisnis dan politik Surya Paloh, boss besar di grup Media Indonesia. “Bahkan kadang program yang sudah jadi, harus di-drop, kalau memang temanya sensitif untuk boss,” katanya.

Cengkeraman Surya tak hanya berhenti pada siaran Metro Teve. Jika ada berita yang tak disukainya –umumnya karena menyinggung kepentingan politik dan ekonominya-- muncul di halaman-halaman Media Indonesia, hampir pasti wartawan yang menulis dan editor yang menyuntingnya akan mendapat teguran keras. “Saya pernah sekali ‘tuh. Saya gak tahu boss ternyata ada main juga disana, redaktur saya juga sama tidak tahu. Begitu berita turun, kami berdua dipanggil,” kata Giyono—bukan nama sebenarnya-- wartawan Media Indonesia.

Yang membuat miris, ternyata tidak hanya media nasional yang punya masalah, media lokal dihinggapi kasus serupa. Pemilik media seringkali menganggap media miliknya sebagai outlet pribadi yang bisa disetirnya sesuka hati.

“Perilaku pemilik media yang seperti itu berdampak pada hilangnya idealisme media dan independensi ruang redaksi. Media seperti itu dengan mudah menyerah pada tekanan politik atau tekanan massa dari pihak yang tidak menghargai kebebasan pers,” kata wartawan senior yang juga bekas Ketua Dewan Pers, Atmakusumah Astraatmadja.

Dia lalu menunjuk beberapa kasus dimana media menyerah pada tekanan massa, yang sama juga artinya mengkompromikan indepedensi ruang redaksi. Kasus Radar Sulawesi Tenggara misalnya. Beberapa tahun lalu, media itu didemo oleh sekumpulan orang yang mengaku mewakili Komunitas Muslim Kota Palu. Mereka memprotes pemuatan opini oleh seorang dosen Universitas Muhammadiyah Palu berjudul ‘Islam, Agama yang Gagal’. Tulisan itu memotret kegagapan sejumlah ulama Islam menghadapi tudingan ekstremitas dan maraknya kekerasan atas nama agama. Buntut demonstrasi itu, Radar Sulteng memutuskan ‘membreidel’ diri sendiri dengan tidak terbit selama tiga hari. Buntut lainnya, si redaktur opini yang meloloskan artikel itu, dipecat.

Kasus lain lagi terjadi di Solo, 1999 silam. Sebuah radio lokal, Rasitania, menyiarkan sebuah dialog antara pendeta Kristen dan ulama Islam lokal. Temanya tentang perbandingan agama. Merasa dilecehkan, sekelompok orang yang menamakan dirinya Front Pemuda Islam Solo berunjukrasa, menuntut radio itu ditutup sebulan lamanya. Alih-alih menolak dan membela prinsip mereka tentang kemandirian ruang redaksi, si pemilik radio memutuskan menutup radionya selama sepekan.

“Kasus-kasus itu menunjukkan bagaimana sebagian media kita tumbuh tanpa kesadaran apa sebenarnya misi mereka untuk masyarakat,” kata Atmakusumah. Dia menekankan bahwa bisnis media pada dasarnya bukanlah bisnis biasa, seperti usaha jual beli meubel atau bisnis kacang goreng misalnya. “Media itu bukan sekadar berjualan kata-kata atau kalimat. Bisnis media adalah bisnis menjual pikiran-pikiran, untuk kemajuan peradaban masyarakatnya. Mengelola bisnis media tidak bisa disamakan dengan mengelola bisnis lainnya,” kata Atmakusumah panjang lebar. Dia mengusulkan dirumuskan sebuah kode etik bisnis media, disamping kode etik jurnalistik yang sudah ada. “Tradisi bahwa bisnis media itu harus menghormati independensi ruang redaksi, harus ditumbuhkan,” kata Atmakusumah.

Urgensi kode etik bisnis media semakin besar ketika kecenderungan konglomerasi media di tanah air semakin besar. Media Nusantara Corporation (MNC) kini sudah memiliki RCTI, Global TV dan Televisi Pendidikan Indonesia. Grup Indosiar, kini mendirikan teve lokal baru, El Shinta TV. Republika sudah bergabung dengan grup Mahaka dan berkolaborasi dengan Jak TV. Kompas Gramedia dan Jawa Pos Grup, selain berkuasa atas jaringan media di seantero Nusantara juga sudah memiliki masing-masing TV7 dan JTV. Dan jangan lupa ada Media Grup dengan Media Indonesia dan Metro TV-nya. Jika tak hati-hati, raja-raja media ini bisa dengan mudah memanfaatkan jaringan medianya untuk kepentingan komersial dan pribadi mereka.

Bagaimana melawannya? Kasus Timika Pos, sebuah koran lokal yang terbit di Papua, mungkin satu contoh yang baik ditiru. Sejak mengambil alihnya dari Grup Persda –anak perusahaan Kompas Gramedia-- pemilik baru media ini, Bupati Mimika Clemen Tinal, berusaha dengan segala cara untuk memaksa awak redaksi Timika Pos membela kepentingan politik dan ekonominya di kabupaten kaya mineral itu. Tak tahan dengan tindakan pemiliknya, belasan awak redaksi Timika Pos mogok kerja dan menerbitkan edisi khusus pada 6 Maret silam. Mereka menuntut pemodal menghormati indepedensi ruang redaksi Timika Pos dan berhenti mencampuradukkan kepentingan pribadi sang Bupati dengan kepentingan publik yang berusaha dilayani media massa.

Aksi itu cukup efektif. Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Timika Pos yang dikenal sebagai kaki tangan si pemilik media di ruang redaksi, diberhentikan. “Komisaris perusahaan berjanji pemimpin umum dan pemimpin redaksi akan diambil dari awak redaksi sendiri,” kata Tjahjono E.P, salah seorang jurnalis Timika Pos yang juga anggota AJI persiapan Timika.

Keberhasilan Timika Pos melawan dan mengalahkan kepentingan kotor pemilik medianya berpangkal dari keberhasilan mereka menggalang solidaritas antara pekerja media di koran itu. “Kuncinya adalah kompak,” kata Tjahjono.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Pers, Misbachuddin Gasma, mengamini. Menurutnya, jalan terbaik bagi jurnalis yang ingin mempertahankan independensi ruang redaksi adalah berserikat. “Jika melawan sendiri-sendiri, pasti kalah. Karena posisi tawar satu orang wartawan jelas kalah melawan kepentingan pemodal,” katanya.

Serikat Pekerja, yang menggalang seluruh pekerja media dalam satu wadah organisasi yang sevisi, punya kemampuan untuk meningkatkan posisi tawar wartawan di hadapan pemilik modal. Tanpa solidaritas pekerja media, independensi ruang redaksi dengan mudah diobrak-abrik. Kalau sudah begitu, bisnis media tak akan ada bedanya dengan bisnis kacang goreng. Semata meraup untung, dengan menghalalkan segala cara. (*)

--tulisan ini pernah dimuat di bulletin 'Reporter Jakarta', media resmi terbitan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.