Wednesday, January 29, 2014

Presiden Pilihan Parpol

Pemilihan Presiden akan berlangsung pada 9 Juli 2014 mendatang. Artinya masih enam bulan lagi. Di benak banyak orang sudah mulai ada bayangan siapa sosok yang akan mereka pilih di bilik suara nanti. Tapi semuanya masih bisa berubah, karena untuk dicalonkan, para kandidat yang sekarang digadang-gadang, harus direstui partai politik.

Artinya, Jokowi yang sering disebut-sebut sebagai calon RI-1 belum tentu dicalonkan PDIP. Anies Baswedan yang kerap dibicarakan sebagai calon pengganti SBY, belum tentu dicalonkan Partai Demokrat --seperti juga Dahlan Iskan, atau Gita Wirjawan. Mahfud Md masih harus bersaing dengan beberapa kandidat lain --seperti Rhoma Irama-- di PKB.

Di PDIP, Jokowi harus lulus seleksi internal yang dipimpin Megawati. Sementara di Demokrat, Anies, Dahlan dan Gita harus berjuang agar mereka dipilih rakyat lewat konvensi. Di PKB, Mahfud masih bersafari keliling Indonesia agar popularitasnya bisa mendongkrak suara partainya.

Hanya calon presiden yang juga orang paling berkuasa di partainya, yang sudah pasti maju ke pemilihan. Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, Hatta Radjasa, Yusril Ihza Mahendra, 100 persen pasti disokong oleh Golkar, Gerindra, PAN dan PBB.

Fenomena ini menandakan bahwa partai rupanya masih berminat membangun oligarki kekuasaan. Hanya capres yang asli, murni, dibesarkan oleh partai, yang melenggang tanpa filter aneh-aneh. Mereka yang dianggap non-partai, harus lewat banyak jalan berliku, sebelum pasti dicalonkan.

Secerdas apapun mereka, semuda apapun, seidealis apapun, sepopuler apapun, semuanya bukan jaminan. Partai menyediakan hanya dua jalur politik. Satu jalur jalan tol untuk kader-kader mereka sendiri, dan satunya jalur jalan memutar buat tokoh masyarakat atau aktivis yang ingin maju ikut pemilihan pejabat publik.

Ini tidak sehat. Terlebih di era ketika masyarakat antipati pada partai. Perilaku korup sebagian petinggi parpol membuat publik jijik pada partai. Akibatnya, mereka yang bersih, antikorupsi, berintegritas dan cerdas, cenderung menjauhkan diri dari partai.

Jalur non-tol untuk mereka yang memutuskan terjun ke politik tentu bisa membuat situasi makin parah. Justru orang parpol harus berterimakasih pada figur seperti Dahlan, Anies, Jokowi, Gita, Mahfud, yang tak punya rekam jejak meniti karir di partai politik, namun mau mendekati parpol untuk mewujudkan mimpi mereka mengabdi pada publik.

Tokoh-tokoh seperti mereka pada akhirnya akan jadi penawar buat rasa benci publik pada parpol. Kalau parpol diibaratkan kaos putih yang sedang kusam dan kotor, maka orang-orang cerdas, bersih berintegritas ini adalah cairan pemutih yang akan membuat parpol kembali disayangi dan dihormati khalayak.

Apalagi kelak kalau Anies Baswedan menjadi Ketua Umum Demokrat, Jokowi menjadi Ketua Umum PDIP, Mahfud menjadi Ketua Umum PKB misalnya, maka citra negatif parpol pasti berangsur membaik. Kalau itu benar-benar terjadi maka parpol sudah berhasil menunaikan tugasnya dalam sistem politik yang ideal: menjadi sarana sirkulasi dan mobilisasi pemimpin di masyarakat kita yang makin maju dan majemuk. (*)